Era Baru Universitas Galuh: Dr. Tita Rohita Bawa Misi Kampus Berdampak Hadapi Tantangan 850 Mahasiswa Mandek


Potret resmi Dr. Tita Rohita, S.Kep., Ners., M.M., M.Kep., yang dilantik sebagai Rektor Universitas Galuh Ciamis periode 2026–2030.


Puncak kepemimpinan Universitas Galuh (Unigal) Ciamis resmi berganti. Melalui proses seleksi yang ketat dan transparan, Dr. Tita Rohita, S.Kep., Ners, M.M., M.Kep., akhirnya dilantik sebagai Rektor Unigal Periode 2026–2030, menggantikan Prof. Dr. Dadi, M.Si.


Pelantikan yang dipimpin oleh Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Galuh Ciamis, dr. Hj. Pupung Oprianti, M.Kes., pada Selasa (7/7/2026) ini bukan sekadar seremoni regenerasi. Ini adalah titik tolak bagi Unigal untuk menjawab tantangan krisis pendaftar baru sekaligus membuktikan bahwa kampus berbasis budaya bisa bersaing secara global dan berdampak nyata bagi masyarakat.


Berikut adalah analisis mendalam mengenai arah baru Unigal di bawah nakhoda Dr. Tita Rohita.


Dinamika Seleksi: Kemenangan Tata Kelola dan Sikap Kenegarawanan


Proses terpilihnya Dr. Tita menjadi contoh baik bagi penerapan good governance di lingkungan akademis. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Galuh, Agun Gunandjar Sudarsa, mengungkapkan bahwa seleksi ini murni berbasis kompetensi, melibatkan tim independen dari LLDikti Wilayah IV (Prof. Uman dan Prof. Syamsu) yang ahli dalam manajemen kepemimpinan.


Dari 13 pendaftar awal, kompetisi mengerucut pada dua srikandi akademisi: Dr. Tita dan Dr. Dewi. Nilai non-komoditas dari proses ini terlihat pada tahap akhir konsultasi publik. Dengan jiwa kebesaran, Dr. Dewi secara terbuka mengakui keunggulan jam terbang Dr. Tita, bahkan menyapanya dengan sebutan "Bu Rektor" sebelum keputusan resmi diketuk.


Solidaritas ini menjadi fondasi awal yang krusial bagi Dr. Tita, membuktikan bahwa internal kampus telah bersatu dan siap menyongsong perubahan tanpa friksi berkepanjangan.


Tantangan Krusial: Evaluasi 850 Mahasiswa Stagnan


Tugas berat langsung menanti di meja kerja rektorat baru. Yayasan secara spesifik menyoroti dua persoalan mendesak: tren penurunan jumlah mahasiswa baru—fenomena yang memang sedang melanda perguruan tinggi nasional—dan nasib sekitar 850 mahasiswa lama yang studinya mandek (stagnant).


Bagi Agun Gunandjar, solusinya bukan sekadar promosi kampus, melainkan membedah akar masalah melalui riset mendalam. Mengingat mayoritas operasional kampus bergantung pada Uang Kuliah Tunggal (UKT), pengelolaan dana harus dikembalikan sepenuhnya pada orientasi pelayanan mahasiswa.


Jika Unigal mampu mengurai persoalan 850 mahasiswa ini hingga mereka tuntas berkuliah, ini akan menjadi portofolio keberhasilan yang secara otomatis mengembalikan kepercayaan publik Tatar Galuh.


Target 100 Hari dan Visi Baru: "Berdampak & Berkelanjutan"


Menjawab tantangan tersebut, Dr. Tita langsung tancap gas. Ia menepis kekhawatiran bahwa latar belakang kesehatannya akan menggeser fokus kampus. Sebaliknya, ia justru memperkaya visi konservasi budaya Unigal dengan menambahkan frasa strategis: "Berdampak dan Berkelanjutan".


“Kampus tidak boleh jadi menara gading. Ia harus memiliki dampak nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di Ciamis dan sekitarnya,” tegas Dr. Tita.


Untuk mewujudkan hal tersebut, rektorat baru menetapkan peta jalan strategis yang sangat terukur:


  • Target 100 Hari Pertama: Menyiapkan infrastruktur Smart Integrated Campus untuk menunjang efisiensi tata kelola dan pelayanan mahasiswa.
  • Audit Organisasi Berbasis Data: Mengevaluasi seluruh lini kerja agar perbaikan mutu tidak sekadar berbasis asumsi.
  • Akreditasi Institusi (AIPT) Unggul: Menargetkan pencapaian predikat Akreditasi A pada November 2027, didorong dengan akselerasi akreditasi unggul di seluruh program studi.


Reinkarnasi "Konservasi Budaya" dalam Kehidupan Kampus


Tongkat estafet dari Prof. Dr. Dadi sebagai rektor sebelumnya membawa amanat besar: menjaga muruah Unigal sebagai Kampus Konservasi dan Budaya.


Namun, Dewan Pembina meluruskan bahwa makna "budaya" di sini harus lebih dari sekadar pementasan seni tari atau kunjungan ke situs sejarah. Budaya Galuh—yang berlandaskan asas asah, asih, asuh—harus terwujud dalam kebijakan konkret.


Implementasi nyatanya ke depan meliputi penegakan kawasan kampus bebas asap rokok, pembiasaan pola hidup bersih, hingga kewajiban mengenakan busana adat Galuh pada hari-hari tertentu. Ini adalah bentuk branding identitas yang kuat, menjadikan Unigal memiliki karakter unik yang tidak bisa direplikasi oleh perguruan tinggi lain.


Dengan kolaborasi solid antara yayasan yang suportif, mantan rektor yang mewariskan fondasi kuat, serta rektor baru yang visioner dan terukur, Universitas Galuh kini memiliki momentum emas untuk bangkit. Kini, publik Ciamis menanti realisasi janji "Kampus Berdampak" tersebut.

Previous Post