Goyobod dan Peluang yang Berputar Setiap Ramadan di Kabupaten Ciamis

Kuliner Goyobod khas Ciamis,

Ada satu indikator ekonomi mikro di Ciamis yang tak pernah muncul dalam laporan resmi: seberapa cepat goyobod habis sebelum azan magrib selama Ramadan.


Produk itu tak punya merek dagang. Tak dipajang dalam lemari pendingin. Ia hadir dalam bentuk paling sederhana—potongan kenyal putih berpadu merah atau hijau di dalam kantung plastik bening kecil, cukup untuk satu mug minuman. Dijual di pasar tradisional seperti Pasar Subuh dan Pasar Manis, lalu beredar sejak pagi melalui pedagang sayur keliling. Menjelang pukul tiga sore, stok hampir selalu menipis.


Bagi sebagian orang, itu hanya rutinitas bulan puasa. Dalam bahasa ekonomi, itu adalah permintaan yang stabil—tanpa iklan, tanpa promosi, tanpa subsidi distribusi.


Pasarnya sudah ada. Industrinya belum.


Distribusi Tanpa Disadari


Goyobod memiliki sesuatu yang jarang dimiliki produk lokal lain: sistem distribusi alami. Pedagang sayur keliling berfungsi sebagai jaringan logistik informal. Mereka mengantarkan produk langsung ke perumahan dan gang-gang kecil. Konsumen tidak perlu mencari; produk yang datang kepada mereka.


Dalam ekonomi modern, konsep itu disebut last-mile delivery. Perusahaan teknologi menghabiskan miliaran untuk membangunnya. Di Ciamis, sistem itu sudah berjalan—tanpa aplikasi dan tanpa investor.


Lebih menarik lagi adalah pola konsumsinya. Goyobod bukan pembelian impulsif. Ia dibeli dengan sengaja, biasanya sebagai persiapan berbuka. Satu atau dua kantung cukup untuk satu keluarga. Ketika sore tiba, tinggal ditambahkan es dan sirup—sering kali Tjampolay—dan minuman pun siap.


Dalam terminologi industri pangan, ini adalah produk assemble-at-home beverage. Artinya, ia sudah setengah jalan menuju komersialisasi skala besar.


Tekstur, Bukan Sekadar Rasa


Fenomena global seperti Bubble tea menunjukkan bahwa keberhasilan minuman modern sering kali bertumpu pada pengalaman tekstur, bukan hanya rasa. Kenyalnya boba menjadi pembeda. Goyobod memiliki kualitas serupa—tekstur yang memberi sensasi berbeda.


Bedanya terletak pada cara kita memposisikannya. Bubble tea diperlakukan sebagai bisnis. Goyobod diperlakukan sebagai tradisi.


Konsekuensinya berulang setiap tahun. Permintaan melonjak selama Ramadan. Produksi meningkat sementara. Setelah itu, aktivitas mereda. Para pembuat kembali ke pekerjaan lain. Nilai ekonomi yang tercipta tak pernah bertransformasi menjadi usaha permanen.


Padahal indikator pasarnya jelas. Produk yang selalu habis sebelum magrib, memiliki pembeli berulang, tidak memerlukan edukasi konsumen, dan bisa dirakit di rumah biasanya merupakan kandidat kuat untuk ekspansi ritel.


Musim yang Membatasi Skala


Industri makanan global menunjukkan pola yang konsisten: produk lokal menjadi global ketika ia tak lagi bergantung pada musim. Kimchi tidak menunggu perayaan Korea. Mochi tidak menunggu festival Jepang. Boba tidak menunggu musim panas Taiwan.


Goyobod Ciamis masih menunggu Ramadan.


Itulah batas tak tertulis yang membuatnya tetap kecil. Selama ia dianggap musiman, ia akan diproduksi secara musiman. Selama ia dipandang sebagai kebiasaan, ia tak akan naik kelas menjadi komoditas.


Padahal yang dibutuhkan relatif teknis: standardisasi ukuran, daya tahan simpan yang lebih panjang, kemasan higienis, dan merek kolektif. Dengan itu, goyobod bisa bergerak dari produk pasar menjadi produk ritel—masuk minimarket, toko oleh-oleh, bahkan platform daring.


Ciamis berada pada posisi unik. Ia bukan daerah asal goyobod, tetapi menjadi contoh konsumsi yang hidup. Penjualan lewat pedagang sayur menunjukkan kompatibilitas produk ini dengan keseharian masyarakat. Artinya, ia tak perlu menunggu festival kuliner atau pusat perbelanjaan modern untuk laku.


Setiap sore selama Ramadan, kantung-kantung plastik kecil itu habis sebelum bedug berbunyi. Dalam ekonomi, itu bukan sekadar kebiasaan. Itu sinyal pasar—permintaan yang telah terbukti tetapi belum diorganisasi.


Sering kali daerah mencari komoditas unggulan melalui proyek besar dan investasi mahal. Ciamis mungkin tidak perlu mencarinya terlalu jauh. Peluang itu sudah berkeliling tiap pagi bersama pedagang sayur, berhenti di depan rumah-rumah, dan kembali esok hari.


Satu kantung plastik kecil goyobod tampak sederhana. Tetapi di dalamnya tersimpan pelajaran yang lebih luas: pasar global kerap berawal dari kebiasaan lokal yang tidak pernah dianggap sebagai industri.

LihatTutupKomentar