Di sebuah ruas jalan menurun di Handapherang, Ciamis, ada kisah kecil yang mencerminkan ekonomi digital Indonesia dalam skala mikro. Warung bakso sederhana itu—yang sempat diserbu antrean panjang pada akhir 2024—kini kembali sunyi. Fenomena ini bukan sekadar cerita tentang bakso jumbo seharga Rp13.000. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana viralitas bekerja, dan bagaimana ia gagal.
Dalam beberapa minggu, algoritma mengubah Mie Baso Mang Dede dari usaha pinggir jalan menjadi destinasi kuliner dadakan. Video pendek di TikTok dan Instagram menampilkan bakso berukuran tidak lazim, disiram kuah, dengan tetelan melimpah. Visualnya kuat. Narasinya sederhana: besar, murah, mengenyangkan.
Dan seperti banyak kisah “boom and bust” lainnya, euforia itu tidak bertahan lama.
Ketika Konten Mengalahkan Kualitas
Media sosial adalah mesin akuisisi pelanggan tercepat yang pernah ada. Namun ia tidak pernah dirancang untuk membangun loyalitas. Algoritma memprioritaskan apa yang terlihat, bukan apa yang terasa.
Bakso jumbo adalah konten yang sempurna. Namun pelanggan tidak kembali untuk konten; mereka kembali untuk rasa.
Di sinilah jurang realitas muncul. Jika ukuran besar dicapai dengan kompromi komposisi—lebih banyak tepung daripada daging—maka konsumen segera menyadarinya. Harga murah bisa memancing kunjungan pertama. Tetapi nilai yang dirasakan menentukan kunjungan kedua.
Dalam industri kuliner, pembelian pertama adalah hasil rasa penasaran. Pembelian kedua adalah hasil kepuasan. Tanpa yang kedua, viralitas hanyalah ledakan sesaat.
Masalah yang Tidak Masuk Kamera
Ada faktor lain yang jarang muncul dalam video 30 detik: pengalaman makan itu sendiri.
Saat puncak viralitas, banyak pelanggan memilih membawa pulang pesanan karena keterbatasan tempat dan parkir. Di atas kertas, penjualan tetap terjadi. Namun secara kualitas, pengalaman terdegradasi. Mie mengembang di perjalanan. Kuah mendingin. Aroma bawang putih yang seharusnya menguar di meja makan menghilang di dalam plastik.
Warung kecil tidak hanya menjual makanan; ia menjual suasana, interaksi, dan kesan pertama. Ketika pengalaman itu hilang, yang tersisa hanyalah produk yang harus berdiri sendiri. Jika produk tidak cukup kuat, siklus selesai.
Lokasi di ujung turunan jalan yang sempit menjadi hambatan berikutnya. Saat sesuatu sedang viral, hambatan fisik terasa sepele. Begitu euforia mereda, hambatan itu menjadi alasan untuk tidak kembali.
Ekonomi menyebutnya “friction cost.” Konsumen menyebutnya, “ribet.”
Wisatawan Kuliner vs. Pelanggan Tetap
Viralitas menciptakan wisatawan kuliner—orang-orang yang datang karena tren. Mereka bukan pelanggan inti. Mereka pemburu momentum. Begitu tren berpindah, mereka ikut berpindah.
Untuk usaha di wilayah seperti Handapherang, fondasi sejatinya adalah warga lokal. Tanpa loyalitas lingkungan sekitar, bisnis menjadi bergantung pada arus eksternal yang tidak stabil. Ketika arus berhenti, fondasi goyah.
Ini bukan kegagalan unik. Ini pola berulang dalam ekonomi UMKM era digital: terlalu cepat naik, terlalu lambat memperkuat struktur.
Dari Mengejar Sorotan ke Membangun Substansi
Pelajaran dari kasus ini bukanlah agar pelaku usaha menjauhi media sosial. Sebaliknya, viralitas adalah aset—tetapi hanya sebagai pintu masuk.
Strategi berikutnya harus lebih disiplin.
Pertama, kualitas harus didahulukan dari kuantitas. Jika margin tipis memaksa kompromi rasa, maka model harga perlu ditinjau ulang. Konsumen bisa menerima harga sedikit lebih tinggi untuk kualitas yang lebih konsisten. Mereka jarang memaafkan rasa yang mengecewakan.
Kedua, diferensiasi produk penting. Jika bakso jumbo adalah magnet awal, maka varian premium dengan komposisi daging lebih tinggi dapat menjadi jangkar reputasi.
Ketiga, distribusi harus menyesuaikan realitas lokasi. Jika parkir terbatas, layanan pesan-antar lokal bukan pilihan tambahan—melainkan kebutuhan strategis.
Dan terakhir, komunikasi harus berubah. Alih-alih terus memamerkan ukuran, narasi perlu bergeser ke perbaikan rasa, kaldu yang lebih kaya, dan komitmen kualitas. Dalam ekonomi reputasi, pengakuan atas kekurangan sering kali lebih kuat daripada klaim kesempurnaan.
Sebuah Pelajaran Lebih Besar
Kisah Mie Baso Mang Dede bukan sekadar cerita tentang bakso di Ciamis. Ia adalah refleksi kecil dari ekonomi perhatian (attention economy). Viralitas membuka pintu. Tetapi hanya kualitas yang membuat orang tinggal.
Di dunia yang bergerak cepat oleh algoritma, godaan untuk mengejar sorotan sangat besar. Namun bisnis yang bertahan lama jarang dibangun di atas sensasi. Ia dibangun di atas konsistensi.
Dalam industri kuliner—seperti dalam banyak hal lain—rasa tetap raja. Viral hanyalah pengumum kedatangannya.

