Nelesan Nagarapageuh: Saat Benda Pusaka dan Warisan Leluhur Tetap Dirawat


Prosesi adat Nelesan penyucian benda pusaka di Desa Nagarapageuh Ciamis

Tidak semua tradisi bertahan karena digelar dengan kemeriahan. Di Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, tradisi Nelesan justru memperlihatkan wajah lain dari pelestarian budaya: tetap dilaksanakan meski pemerintah desa harus menyesuaikan penyelenggaraan dengan kondisi keuangan.


Setiap tahun, pada 8 Rabiul Awal, masyarakat Nagarapageuh kembali menjalankan ritual adat Nelesan di Situs Karomah Pasarean Pangeran Undakan Kalangsari. Tradisi tersebut dikenal sebagai prosesi membersihkan benda-benda pusaka peninggalan leluhur.


Tahun ini, pelaksanaannya dibuat lebih sederhana. Tidak ada gebyar sebesar tahun-tahun sebelumnya. Namun, inti ritual tetap dipertahankan.


Bagi masyarakat setempat, justru di situlah pentingnya Nelesan. Tradisi tidak semata-mata diukur dari banyaknya acara pendamping atau kemeriahan hiburan, tetapi dari kemampuan generasi sekarang menjaga pengetahuan dan tata cara yang diwariskan leluhur.


Air Dari Tiga Sumber dan Pusaka yang Dirawat


Prosesi Nelesan diawali dengan pengambilan air yang digunakan dalam ritual. Salah satu sumber yang disebut dalam pelaksanaan tahun ini adalah Cibarani, yang berada di kawasan Situs Raden Kadakan Kalang Sari atau kawasan keramat Nagarapageuh.


Air tersebut dibawa menggunakan wadah tradisional sebelum digunakan dalam prosesi pembersihan benda pusaka.


Ritual kemudian dipimpin oleh juru kunci, Eman Sulaeman. Sejumlah benda peninggalan leluhur dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk dibersihkan secara hati-hati melalui tata cara adat yang telah diwariskan.


Dalam tradisi masyarakat Nagarapageuh, air bukan hanya dipahami sebagai sarana untuk membersihkan benda secara fisik. Nelesan juga mengandung pesan simbolik mengenai manusia yang perlu terus membersihkan diri dari sifat-sifat buruk.


Nama Nelesan sendiri berkaitan dengan kata Sunda teles, yang berarti basah atau membasahi. Dalam pemaknaan tradisi, proses membasahi atau membersihkan pusaka menjadi simbol ajakan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki perilaku.


Karena itu, benda pusaka dalam ritual ini bukan sekadar objek bersejarah. Ia menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan cerita, nilai, dan identitas masyarakat Nagarapageuh.


Benda pusaka peninggalan leluhur dalam tradisi Nelesan Desa Nagarapageuh Ciamis


Tahun Ini Tidak Semeriah Biasanya


Ada satu hal yang membedakan pelaksanaan Nelesan tahun ini.


Kepala Desa Nagarapageuh, Yoyo Suparyo, S.E., mengatakan kegiatan dilaksanakan secara sederhana karena pemerintah desa harus mempertimbangkan kondisi keuangan yang sedang mengalami tekanan.


Pada tahun-tahun sebelumnya, Nelesan dapat dikemas lebih meriah dengan berbagai kegiatan hiburan dan rangkaian acara pendukung. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah desa memilih mempertahankan substansi ritual tanpa membebani keuangan desa.


Keputusan tersebut memperlihatkan sebuah pilihan yang cukup penting dalam pelestarian budaya: mana yang harus dipertahankan ketika sumber daya terbatas?


Jawabannya adalah inti tradisi.


Ritual tetap dilaksanakan. Benda pusaka tetap dirawat. Air yang menjadi bagian penting dalam prosesi tetap dihadirkan. Tokoh adat dan masyarakat tetap berkumpul.


Dengan demikian, kesederhanaan penyelenggaraan tidak serta-merta membuat nilai Nelesan berkurang.


“Biasanya tahun-tahun kemarin itu gebyar, dilaksanakan dengan meriah. Berbagai acara diselenggarakan, termasuk hiburan,” kata Yoyo.


Meski begitu, pelaksanaan tahun ini tetap mendapat dukungan dari berbagai unsur masyarakat dan pemerhati budaya.


Dari Ritual Desa Menjadi Ruang Perjumpaan Budaya


Nelesan juga tidak hanya dihadiri masyarakat Desa Nagarapageuh.


Dalam pelaksanaannya, hadir jajaran Polres Ciamis, unsur Polsek, tokoh budaya Wargi Tatar Galuh Ciamis, tokoh adat dan budayawan Nagarapageuh serta sejumlah tokoh lainnya.


Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki ruang yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Ia menjadi tempat bertemunya sejarah, adat, agama, pemerintah, komunitas budaya dan masyarakat.


Di tengah perubahan zaman, ruang semacam ini menjadi penting.


Tradisi yang hanya disimpan dalam cerita akan semakin jauh dari generasi muda. Sebaliknya, ketika anak-anak dan generasi muda melihat langsung bagaimana pusaka dirawat, bagaimana tokoh adat menjalankan prosesi, dan bagaimana masyarakat berkumpul, mereka mendapatkan pengalaman budaya yang tidak diperoleh hanya dari buku.


Karena itu, Nelesan pada akhirnya bukan hanya tentang benda pusaka.


Ia juga berbicara tentang siapa masyarakat Nagarapageuh, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang ingin mereka teruskan kepada generasi berikutnya.


Menjaga Tradisi Tanpa Harus Selalu Meriah


Keterbatasan anggaran memang membuat wajah Nelesan tahun ini berbeda. Namun, kesederhanaan tersebut sekaligus memberikan pelajaran bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan panggung besar.


Ada kalanya sebuah tradisi justru terlihat lebih jelas ketika ornamen kemeriahannya dikurangi.


Yang tersisa adalah ritualnya, orang-orang yang menjaganya, cerita yang diwariskan, serta alasan mengapa tradisi tersebut masih dianggap penting.


Dalam konteks Nagarapageuh, Nelesan menjadi salah satu cara masyarakat menjaga ingatan kolektif tentang leluhur dan sejarah desanya.


Pemerintah desa pun menghadapi tantangan untuk menemukan keseimbangan: mempertahankan warisan budaya, tetapi tetap menyesuaikan kegiatan dengan kemampuan keuangan daerah dan desa.


Tahun ini, Nelesan mungkin tidak hadir dengan kemeriahan seperti sebelumnya. Tetapi selama air masih diambil, pusaka masih dirawat, doa masih dipanjatkan dan pengetahuan masih diwariskan, tradisi itu belum kehilangan kehidupannya.


Nelesan bertahan bukan karena kemewahan acaranya, melainkan karena masih ada masyarakat yang merasa memiliki alasan untuk menjaganya.


Ditulis oleh Ule Sulaeman | InfoCiamis.Online

Previous Post