CIAMIS, JAWA BARAT — Di tengah rutinitas mengajar, mengurus keluarga, dan tuntutan profesional yang kian kompleks, puluhan guru perempuan di Kabupaten Ciamis menemukan ruang lain untuk bersuara: lewat puisi dan cerita pendek.
Ruang itu kini terwujud dalam sebuah buku berjudul Perempuan-Perempuan Tangguh, yang resmi diluncurkan oleh Bidang Pemberdayaan Perempuan PGRI Kabupaten Ciamis, Sabtu (3/1/2025), di Gedung PGRI Ciamis.
Buku tersebut bukan sekadar kumpulan karya sastra. Ia menjadi catatan kolektif tentang pengalaman, kelelahan, harapan, dan keteguhan perempuan—khususnya guru—yang menjalani banyak peran sekaligus dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 64 penulis perempuan terlibat dalam penyusunan buku ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang di dunia pendidikan, mulai dari guru, pengawas sekolah, kepala sekolah, hingga unsur Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis.
"Prosesnya kami buka seluas-luasnya, tanpa seleksi yang ketat. Kami ingin setiap perempuan punya kesempatan untuk menulis, sesuai minat dan kemampuannya," tegas Euis Cucu Sukmanah, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan PGRI Kabupaten Ciamis.
Sastra sebagai Ruang Aman Perempuan
Perempuan-Perempuan Tangguh disusun dalam bentuk antologi puisi dan cerpen, dengan tema besar Peran Guru Perempuan dalam Pendidikan. Tidak ada pemisahan kategori. Semua karya dihimpun dalam satu buku, seolah menegaskan bahwa setiap pengalaman memiliki bobot yang setara.
Proses penulisan berlangsung sejak April hingga Desember 2025. Waktu yang panjang, menurut Euis, dibutuhkan untuk memastikan setiap penulis mendapatkan pendampingan dan ruang belajar, terutama bagi mereka yang baru kembali menulis setelah lama berhenti.
"Lahirnya 64 penulis perempuan ini adalah capaian besar bagi kami. Bukan hanya soal buku, tetapi tentang keberanian untuk bersuara," ujarnya.
Di lingkungan PGRI Jawa Barat, khususnya di Ciamis, buku ini disebut sebagai salah satu karya literasi pionir yang secara khusus menyoroti pengalaman guru perempuan. Inisiatif literasi ini sejalan dengan upaya lain di Kabupaten Ciamis, seperti program monitoring TBM oleh Perpustakaan Nasional yang juga berfokus pada penguatan budaya baca.
Dari Dapur ke Puisi
Salah satu suara dalam buku tersebut datang dari Ely Mulyaningsih, penulis puisi berjudul Buih dan Kaldu. Puisinya lahir dari pengalaman yang sangat domestik: memasak.
"Pekerjaan seorang ibu itu seperti tidak pernah selesai. Pagi memasak, lalu bekerja, kemudian kembali ke rumah dengan peran yang terus berganti," kata Ely.
Dalam puisinya, dapur tidak lagi menjadi ruang sunyi, melainkan simbol dari kerja emosional dan fisik yang terus berulang. Sebuah metafora tentang fleksibilitas dan ketangguhan perempuan dalam menjalani banyak peran, sering kali tanpa jeda.
Ely mengaku sempat ragu untuk kembali menulis setelah lama berhenti. Namun, di sela kesibukan, inspirasi justru datang dari hal-hal paling dekat dengan kesehariannya.
"Sastra itu lahir dari hidup," ujarnya singkat.
Literasi, dari Guru ke Murid
Pada tahap awal, Perempuan-Perempuan Tangguh dicetak sebanyak 104 eksemplar dan dapat diakses oleh penulis maupun masyarakat umum. Pencetakan ulang akan dilakukan apabila minat pembaca meningkat.
Bagi PGRI Ciamis, buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai proyek simbolik. Lebih jauh, ia menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya literasi, dimulai dari guru, lalu menular ke ruang kelas. Upaya ini juga selaras dengan Lomba Video Literasi Ciamis 2025 yang mendorong kreativitas dalam menyebarkan semangat literasi.
"Puisi dan cerpen bisa menjadi medium yang efektif untuk meningkatkan literasi guru. Dan dari sana, kecintaan membaca dan bersastra dapat tumbuh di kalangan peserta didik," kata Euis.
Di balik halaman-halaman buku ini, tersimpan satu pesan yang sama: bahwa ketangguhan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk heroik, tetapi sering kali tumbuh diam-diam—di ruang kelas, di dapur, dan kini, di halaman buku.
"Tidak ada ibu atau perempuan yang tidak tangguh. Ketangguhan itulah yang ingin kami bagikan," kata Ely.
