Bagi sebagian sekolah, olimpiade mungkin identik dengan persiapan mengejar juara. Namun di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ciamis, Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset dan Sains 2026 dipandang lebih jauh dari sekadar perburuan medali.
Sebanyak 27 murid MAN 2 Ciamis disiapkan mengikuti ajang tersebut. Mereka tidak hanya berlatih menguasai materi pelajaran, tetapi juga didorong untuk membangun kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan, melakukan penelitian, serta berani menguji kemampuan di hadapan peserta dari berbagai madrasah di Indonesia.
Bagi madrasah, proses tersebut justru menjadi bagian paling penting dari kompetisi.
Kepala MAN 2 Ciamis, Drs. Aris Mujiraharjo, M.Pd.I., mengatakan keikutsertaan murid dalam OMI menjadi salah satu cara madrasah membaca sekaligus mengembangkan potensi akademik peserta didik.
Menurutnya, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak penghargaan yang dibawa pulang.
“Kami berharap melalui OMI para murid tidak hanya berorientasi pada prestasi dan juara, tetapi juga mampu mengembangkan potensi dirinya, membangun karakter yang positif, serta mendapatkan pengalaman berkompetisi di tingkat nasional,” ujar Aris, Rabu (2/9/2026).
Ia mengatakan madrasah memberikan pembinaan agar para peserta memiliki kesiapan akademik sekaligus mental ketika menghadapi kompetisi.
Di sinilah OMI menjadi lebih dari sekadar agenda lomba. Bagi murid, kompetisi menjadi ruang untuk belajar menghadapi tekanan, mengelola waktu, mempertahankan argumentasi dan menerima hasil dari proses yang telah mereka jalani.
Dari Belajar Mandiri Menuju Latihan yang Lebih Terarah
Persiapan menuju OMI kini memasuki tahap intensif.
Guru pembimbing Fajar Hari Santosa, S.Pd., mengatakan pola latihan ditingkatkan menjelang tahapan kompetisi. Jika sebelumnya murid masih banyak belajar secara mandiri pada waktu luang, pembinaan kini dilakukan secara lebih terstruktur.
“Sekarang kita masuk ke sesi pelatihan intensif karena tanggal 7-8 mau ada kegiatan. Jadi minggu terakhir ini kita langsung pelatihan secara langsung,” kata Fajar.
Menurutnya, peserta mulai mengalokasikan waktu belajar secara lebih fokus untuk materi yang akan diujikan.
Perubahan pola belajar tersebut bukan sekadar menambah durasi latihan. Murid juga belajar mengenali kelemahan masing-masing, memahami tipe soal, memperdalam konsep dan membangun ketahanan menghadapi kompetisi.
Bagi guru pembimbing, tantangannya bukan hanya membuat murid mengetahui lebih banyak materi, tetapi membantu mereka memahami materi secara lebih mendalam.
Sembilan Bidang Menjadi Ruang Untuk Menemukan Kekuatan Murid
MAN 2 Ciamis mengikutsertakan delegasinya dalam sembilan bidang OMI Sains dan Riset 2026.
Bidang yang diikuti meliputi Biologi Terintegrasi, Ekonomi Terintegrasi, Fisika Terintegrasi, Geografi Terintegrasi, Kimia Terintegrasi, Matematika Terintegrasi, Sustainable Development Goals (SDGs) Tim 1, SDGs Tim 2, serta Ekoteologi yang mengintegrasikan perspektif keislaman dan keilmuan.
Keragaman bidang tersebut menunjukkan bahwa kemampuan akademik murid tidak diletakkan dalam satu ukuran yang sama.
Ada murid yang kuat dalam matematika, ada yang tertarik pada sains, lingkungan, ekonomi atau persoalan pembangunan berkelanjutan. Pada bidang ekoteologi, misalnya, peserta ditantang mempertemukan pengetahuan dengan perspektif keislaman.
Pendekatan semacam itu memberi ruang bagi murid untuk menemukan bidang yang paling sesuai dengan ketertarikan dan kemampuannya.
Riset Mengajarkan Murid Bahwa Jawaban Tidak Selalu Tersedia
Selain olimpiade sains, MAN 2 Ciamis juga mengirimkan peserta pada bidang penelitian.
Di bagian ini, tantangannya berbeda.
Murid tidak cukup hanya mengingat konsep atau menjawab pertanyaan. Mereka harus berangkat dari persoalan, menemukan ide, menyusun proposal, menentukan pendekatan dan memikirkan bagaimana penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Guru pembimbing Ainuz Zahro Asna, S.Pd., mengatakan persiapan untuk bidang riset masih terus berjalan bersamaan dengan pembinaan peserta olimpiade.
“Untuk MAN 2 Ciamis ini kita mau mengikuti OMI Sains, Olimpiade, dan Riset. Untuk olimpiade ini masih dalam kegiatan bimbingan. Dan kemudian untuk penelitian hari ini nanti siang sampai sore kita akan menyerahkan proposal penelitiannya,” ujarnya.
Proses tersebut memberi pengalaman berbeda kepada murid karena mereka belajar bahwa sebuah penelitian tidak dimulai dari jawaban, melainkan dari pertanyaan yang tepat.
Aldy Belajar Bahwa Penelitian Dimulai dari Sebuah Gagasan
Pengalaman itu dirasakan Aldy Pratama, murid kelas XI MAN 2 Ciamis yang mengikuti OMI bidang penelitian.
Bersama timnya, Aldy harus melewati sejumlah tahapan sebelum penelitian dapat dibawa ke arena kompetisi. Mereka mulai dari menentukan gagasan, menyusun proposal hingga mempersiapkan kebutuhan untuk tahap berikutnya.
“Persiapannya tentu kami lakukan bersama tim, mulai dari menentukan ide penelitian, menyusun proposal, hingga mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk mengikuti tahapan selanjutnya,” ujar Aldy.
Bagi Aldy, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan peluang membawa nama madrasah ke tingkat nasional.
Ia melihat proses penelitian sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus melatih kemampuan dirinya dan teman-temannya.
Harapannya sederhana: penelitian yang mereka susun dapat memberikan hasil terbaik, tetapi pengalaman selama prosesnya juga bisa menjadi bekal untuk terus belajar.
OMI dan Pekerjaan Rumah Pendidikan Setelah Lomba Selesai
Rangkaian OMI Riset dan Sains 2026 berlangsung secara daring dari lingkungan madrasah, dengan tahapan yang berjalan mulai 20 Agustus hingga 12 November 2026. Pendaftaran bidang Sains dan Riset berlangsung hingga 2 September, kemudian dilanjutkan dengan uji coba, penyisihan tingkat kabupaten/kota dan tahapan nasional pada November.
Bagi MAN 2 Ciamis, kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan proses pembelajaran di ruang kelas dengan persoalan yang lebih nyata.
Murid belajar bekerja dalam tim. Mereka menghadapi tenggat waktu. Mereka harus mempertanggungjawabkan gagasan. Mereka juga belajar bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan harapan.
Nilai-nilai semacam itu sering kali tidak terlihat dalam daftar perolehan medali, tetapi justru menjadi bagian penting dari pendidikan.
Karena itu, keberhasilan 27 peserta MAN 2 Ciamis dalam OMI 2026 pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari siapa yang lolos atau berapa penghargaan yang diperoleh.
Ada capaian lain yang jauh lebih panjang umurnya: lahirnya murid yang terbiasa bertanya, mencari bukti, menguji gagasan dan tidak mudah menyerah ketika menemukan persoalan.
Jika budaya itu terus tumbuh, maka OMI tidak berhenti ketika kompetisi berakhir. Pengalaman dari arena lomba dapat kembali ke ruang kelas dan membentuk cara murid belajar—dari sekadar mencari jawaban menjadi belajar memahami mengapa sebuah jawaban dapat dipertanggungjawabkan.
Ditulis oleh Feri Kartono | InfoCiamis.Online
