Desa Handapherang di Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah wilayah administratif. Di balik nama desa, pembagian dusun, dan kehidupan masyarakatnya sekarang, terdapat rangkaian cerita mengenai permukiman lama, tokoh masyarakat, perkembangan pemerintahan, pendidikan, agama, serta tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Riwayat Handapherang banyak hidup dalam ingatan masyarakat melalui cerita para sepuh, nama tempat, keberadaan mata air, patilasan, serta tradisi yang masih dikenali hingga sekarang. Sebagian di antaranya merupakan sejarah lokal yang diwariskan secara lisan sehingga perlu ditempatkan sebagai bagian dari narasi dan ingatan budaya masyarakat.
Dari Mana Nama Handapherang Berasal?
Salah satu riwayat yang berkembang di masyarakat mengaitkan nama Handapherang dengan dua kata dalam bahasa Sunda, yakni handap dan herang.
Handap berarti rendah, sedangkan herang berarti bening atau jernih. Penamaan tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi wilayah dan keberadaan sumber air yang dikenal memiliki air jernih.
Dalam cerita masyarakat, kawasan ini telah mengenal keberadaan sumur-sumur tua sejak masa sebelum abad ke-18. Salah satu sumber air yang disebut dalam riwayat lokal berada di sekitar perbatasan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Dusun Handapherang dan Dusun Kersikan.
Keberadaan sumber air bukan hanya penting untuk kebutuhan sehari-hari. Bagi masyarakat masa lalu, mata air dapat menjadi titik awal terbentuknya permukiman. Dari tempat yang menyediakan air, masyarakat kemudian mengembangkan kehidupan pertanian dan membangun hubungan sosial di sekitarnya.
Karena itu, nama Handapherang dapat dipahami bukan sekadar sebagai nama geografis. Dalam penafsiran budaya masyarakat setempat, kata tersebut juga menyimpan gambaran tentang hubungan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Dari Permukiman Lama Menuju Pemerintahan Desa
Perkembangan Handapherang berlangsung melalui proses yang panjang. Kehidupan masyarakat yang semula bergantung pada lingkungan alam kemudian berkembang menjadi permukiman dengan kegiatan pertanian sebagai salah satu penopang utama kehidupan.
Riwayat pemerintahan desa dalam cerita lokal mencatat nama Raden Arsa Wijaya atau Eyang Gaok sebagai kuwu pertama. Ia disebut mulai memimpin pada 20 Agustus 1830 dan menjalankan pemerintahan hingga 1843.
Tanggal tersebut kemudian memiliki arti tersendiri bagi masyarakat karena dikaitkan dengan tradisi milangkala atau peringatan hari lahir desa.
Pada masa itu, pemerintahan desa berada dalam lingkungan sosial-politik Priangan yang mengalami perubahan besar pada era kolonial. Kehidupan masyarakat juga berkaitan erat dengan kegiatan pertanian dan kebijakan pemerintah kolonial.
Setelah masa kepemimpinan Raden Arsa Wijaya berakhir, pemerintahan diteruskan oleh Raden Astra Wijaya. Dalam riwayat desa, masa kepemimpinan tersebut juga dikaitkan dengan perubahan penyebutan nama desa hingga penggunaan nama Handapherang semakin dikenal.
Daftar Kuwu dan Kepala Desa dari Masa ke Masa
Pergantian pemimpin menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah desa. Di Handapherang, istilah kuwu juga menjadi bagian dari identitas pemerintahan lokal masyarakat Sunda.
Berdasarkan riwayat yang berkembang di lingkungan desa, urutan pemimpin Handapherang adalah sebagai berikut:
- Raden Arsa Wijaya (Eyang Gaok) — 1830–1843
- Raden Astra Wijaya — 1843–1857
- Haji Abdul Rohman R. Tirta Wijaya — 1857–1887
- Raden Haji Abdullah — 1888–1896
- Raden Sukanta Wijaya — 1897–1927
- Madtahwi — 1928–1945
- Haji Zenal Hasan — 1946–1956
- Achmad Djalaludin — 1956–1979
- Herman Hendra Sukmana — 1980–2007
- Haji Komarudin — 2007–2013
- Mamad Mardian — 2013–2014
- Abdurachman — 2014–2022
- Tantan Sontani, S.H. — 2022–sekarang
Daftar tersebut menunjukkan bahwa sejarah desa tidak hanya berbicara tentang usia wilayah, tetapi juga tentang perubahan kepemimpinan dan cara masyarakat mengelola kehidupan bersama.
Istilah kuwu sendiri dikenal luas dalam tradisi pemerintahan masyarakat Sunda, khususnya di sejumlah wilayah Jawa Barat. Penggunaan istilah tersebut menjadi salah satu jejak bahasa dan budaya pemerintahan lokal yang masih dikenali hingga kini.
Lima Dusun yang Menyimpan Cerita Berbeda
Perjalanan Handapherang tidak dapat dilepaskan dari lima dusun yang membentuk wilayah desa saat ini, yaitu Dusun Desa, Dusun Cikatomas, Dusun Guha, Dusun Kersikan, dan Dusun Handapherang.
Masing-masing mempunyai cerita mengenai asal nama, tokoh masyarakat, lingkungan alam, maupun perkembangan kehidupan sosial.
Dusun Desa
Dusun Desa berkembang sebagai kawasan yang berkaitan dengan pusat pemerintahan desa. Dalam riwayat setempat, pusat pemerintahan pernah berada di Blok Ciloa sebelum kemudian berpindah ke wilayah Dusun Desa pada masa kepemimpinan Haji Zenal Hasan sekitar 1946.
Perkembangan dusun ini juga tidak terlepas dari aktivitas keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat. Nama Ajengan Hasan dan Ajengan Ahmad Rosadi disebut dalam cerita masyarakat sebagai tokoh yang berperan dalam perkembangan syiar Islam.
Dusun Cikatomas
Nama Cikatomas dalam riwayat masyarakat dikaitkan dengan nama lama Cikadomas. Kata ci atau cai merujuk pada air, sementara kadomas dikaitkan dengan nama tumbuhan yang tumbuh di sekitar sumber air.
Perubahan penyebutan dari Cikadomas menjadi Cikatomas kemudian menjadi bagian dari perjalanan nama dusun.
Salah satu tokoh yang disebut dalam riwayat masyarakat adalah Haji Salam, yang dikenal mempunyai peran dalam kehidupan keagamaan, termasuk mewakafkan tanah untuk kepentingan pembangunan masjid.
Dusun Guha
Berbeda dengan Cikatomas, nama Dusun Guha lebih mudah dikaitkan dengan kondisi alamnya. Dalam cerita masyarakat, terdapat gua alami di sekitar tepian Sungai Citanduy yang kemudian menjadi bagian dari identitas kawasan.
Sejumlah nama tokoh dan tempat seperti Raden Patih, Ki Mas Yuda, Anam Taka-Anam Mida, serta Prabu Liman Sonjaya juga muncul dalam cerita mengenai kawasan ini.
Cerita tersebut menjadi bagian dari memori budaya masyarakat, meskipun kisah mengenai tokoh dan keberadaan situs perlu dibedakan antara tradisi lisan dan bukti sejarah yang telah terdokumentasi.
Dusun Kersikan
Nama Kersikan dalam cerita masyarakat disebut berkaitan dengan istilah karesikan, yakni tempat yang dianggap bersih. Dalam perkembangan pelafalan masyarakat, nama tersebut kemudian dikenal sebagai Kersikan.
Kehidupan sosial dan keagamaan turut membentuk identitas dusun ini. Salah satu nama yang masih disebut dalam riwayat lokal adalah Ki Fakhru Rozi, yang dikaitkan dengan perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat.
Dusun Handapherang
Dusun ini memiliki posisi penting karena namanya sama dengan nama desa.
Dalam riwayat masyarakat, kawasan Handapherang disebut sebagai salah satu permukiman lama yang memiliki hubungan erat dengan keberadaan sumber air.
Perkembangan pendidikan agama juga menjadi bagian dari sejarah dusun. Salah satunya melalui Pesantren Ciloa Daarul Falaah yang dalam riwayat masyarakat dikaitkan dengan Ajengan Zaenal Mustofa.
Selain itu, terdapat pula cerita mengenai patilasan Tubagus Syatariah yang menjadi bagian dari warisan cerita lokal.
Patilasan sebagai Jejak Ingatan Masyarakat
Salah satu hal menarik dari sejarah Handapherang adalah keberadaan sejumlah tempat yang oleh masyarakat disebut sebagai patilasan.
Patilasan tidak selalu dapat dipahami sebagai bukti sejarah tertulis. Dalam kebudayaan Sunda, istilah tersebut sering digunakan untuk menyebut lokasi yang diyakini memiliki hubungan dengan tokoh atau peristiwa pada masa lampau.
Di Handapherang, beberapa lokasi yang dikenal dalam cerita masyarakat antara lain Cipancur, Cikaracak, Rancajantung, Blok Pajaten, serta sejumlah patilasan tokoh.
Cipancur dan Cikaracak
Kedua nama tempat tersebut muncul dalam riwayat lokal sebagai kawasan yang berkaitan dengan perjalanan tokoh dari masa lalu.
Cerita masyarakat menghubungkannya dengan Dalem Galuh Adipati Panaekan serta aktivitas sejumlah tokoh keagamaan.
Kisah semacam ini memperlihatkan bagaimana hubungan antara nama tempat dan tokoh masa lalu tetap bertahan dalam ingatan masyarakat, meskipun tingkat pembuktian sejarah setiap cerita dapat berbeda.
Patilasan Eyang Angsana
Eyang Angsana dalam cerita masyarakat dikaitkan dengan tokoh dari lingkungan Kesultanan Cirebon yang melakukan dakwah kepada masyarakat.
Narasi tersebut menggambarkan proses perubahan kehidupan keagamaan yang berlangsung secara bertahap melalui hubungan antara tokoh agama dan masyarakat.
Rancajantung dan Blok Pajaten
Rancajantung dan Blok Pajaten juga menjadi bagian dari cerita sejarah lokal. Keduanya dikaitkan dengan kisah mengenai pertahanan dan kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Galuh.
Dari kawasan tersebut berkembang pula legenda Si Bapang dan Si Rawing, dua ikan kancra yang dipercaya masyarakat mempunyai hubungan dengan sumber air dan kelestarian lingkungan.
Legenda tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai warisan cerita rakyat. Nilai pentingnya tidak hanya terletak pada benar atau tidaknya cerita secara historis, tetapi juga pada pesan masyarakat mengenai hubungan manusia dengan alam.
Cerita Rakyat yang Bertahan dari Generasi ke Generasi
Sejarah sebuah desa tidak selalu tersimpan dalam dokumen pemerintahan. Sebagian lainnya bertahan melalui cerita yang disampaikan secara lisan.
Di Handapherang terdapat sejumlah cerita rakyat yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Si Bapang dan Si Rawing
Cerita tentang dua ikan kancra dari kawasan Rancajantung menjadi salah satu legenda yang dikenal masyarakat.
Di balik kisah tersebut terdapat pesan tentang pentingnya menjaga sumber air dan keseimbangan lingkungan. Cerita rakyat dengan latar alam seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu menyampaikan pesan mengenai lingkungan melalui simbol dan kisah.
Rancatutut
Nama Rancatutut dikaitkan dengan cerita mengenai keong tutut yang hidup di kawasan rawa.
Cerita tersebut berkembang bersama petuah para sepuh mengenai kesederhanaan, ketekunan, dan cara manusia menjalani kehidupan.
Cinini-Nini
Cerita Cinini-Nini berkaitan dengan kisah Ki Waru dan Nini Ambu. Keduanya digambarkan dalam tradisi lisan sebagai pasangan yang menjalani kehidupan sederhana.
Tempat yang kemudian dikenal dengan nama Cinini-Nini menjadi bagian dari ingatan masyarakat dan diwariskan melalui cerita keluarga maupun masyarakat setempat.
Tugu Sayangkaak
Tugu Sayangkaak menjadi salah satu penanda yang dikaitkan dengan peninggalan masa kolonial.
Keberadaan penanda semacam ini menarik karena memperlihatkan bagaimana perubahan tata ruang pada masa lalu meninggalkan jejak yang masih dikenali oleh masyarakat sekarang.
Maenpo Aom Turat
Selain situs dan legenda, terdapat pula cerita mengenai Maenpo Aom Turat, yang berkaitan dengan pencak silat tradisional.
Dalam pemahaman masyarakat, pencak silat tidak semata-mata menjadi keterampilan bela diri, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, keberanian, dan penghormatan terhadap orang lain.
Tradisi yang Menjadi Bagian dari Kehidupan Warga
Warisan budaya Handapherang tidak hanya berupa nama tempat dan cerita masa lalu. Sejumlah tradisi berkembang melalui aktivitas masyarakat.
Salah satunya adalah munggahan, tradisi menyambut bulan Ramadan dengan berkumpul dan makan bersama. Dalam praktik masyarakat setempat, kegiatan tersebut dapat disertai kegiatan keagamaan, seni tradisional, maupun pencak silat.
Ada pula tradisi sosial yang berkembang di kalangan pemuda, termasuk kebiasaan memberikan satu batang rokok kepada anggota Karang Taruna ketika diundang dalam kegiatan pernikahan. Praktik tersebut merupakan bagian dari kebiasaan sosial masyarakat pada suatu masa dan mencerminkan bentuk sederhana dari hubungan antarpemuda.
Di wilayah Cikatomas dan Cipancur juga dikenal cerita mengenai susuci, yakni kegiatan mandi di sumber air yang dianggap mempunyai nilai tertentu dalam tradisi masyarakat.
Sementara itu, istilah Guyub Guha menggambarkan semangat kebersamaan warga dalam berbagai kegiatan, termasuk pembangunan fasilitas pendidikan dan keagamaan.
Kesenian dan olahraga turut menjadi bagian dari kehidupan sosial. Calung, degung Sekar Binuang, qasidah rebana, sepak bola, dan bola voli menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus mengekspresikan kreativitas.
Pendidikan Mengubah Wajah Desa
Perubahan sosial Handapherang juga dapat dilihat melalui perkembangan pendidikan.
Pada masa kolonial, masyarakat mengenal pendidikan formal melalui Sekolah Rakyat atau Volkschool. Setelah Indonesia merdeka, pendidikan berkembang melalui sekolah dasar dan kemudian berbagai lembaga pendidikan keagamaan.
Perjalanan tersebut berlanjut dengan keberadaan madrasah dan pesantren. Salah satu lembaga yang mempunyai tempat dalam riwayat pendidikan masyarakat adalah Pesantren Daarul Falaah Ciloa.
Lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan. Di lingkungan desa, sekolah, madrasah, dan pesantren juga menjadi tempat pembentukan karakter, kegiatan sosial, serta pewarisan nilai keagamaan dan budaya.
Perkembangan tersebut memperlihatkan perubahan Handapherang dari masyarakat agraris tradisional menuju komunitas yang mempunyai pilihan pendidikan semakin beragam.
Pertanian, Kerajinan, dan Kreativitas Warga
Seperti banyak desa di wilayah Priangan, pertanian mempunyai hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat Handapherang.
Kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi bagian dari mata pencaharian warga. Kelompok tani, pemeliharaan domba, serta budidaya ikan berkembang sesuai kondisi lingkungan dan kemampuan masyarakat.
Di luar sektor pertanian, kreativitas warga juga muncul melalui kerajinan dan produk pangan tradisional.
Sagon ketan dan kerajinan ukiran menjadi contoh keterampilan yang diwariskan dan dikembangkan sebagai sumber penghasilan. Dalam riwayat masyarakat, produk tersebut bahkan pernah dipasarkan hingga sejumlah kota di luar daerah.
Kreativitas masyarakat juga terlihat dari pembuatan kolecer, alat tradisional berupa kincir yang dahulu menjadi salah satu bentuk permainan sekaligus ekspresi keterampilan masyarakat.
Dengan demikian, sejarah ekonomi Handapherang bukan hanya mengenai pertanian, tetapi juga mengenai kemampuan masyarakat memanfaatkan keterampilan lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Nilai Gotong Royong dalam Kehidupan Masyarakat
Di tengah perubahan zaman, kehidupan sosial masyarakat masih dipengaruhi nilai kebersamaan.
Gotong royong menjadi salah satu nilai yang terlihat dalam pembangunan fasilitas umum, kegiatan keagamaan, kegiatan pemuda, hingga berbagai aktivitas sosial.
Falsafah Sunda sebobot sapihanan sabata sarimbagan juga dikenal sebagai ungkapan yang menggambarkan pentingnya hidup rukun, saling membantu, dan menjaga kebersamaan.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa sejarah desa tidak hanya berisi tahun, nama pemimpin, dan tempat bersejarah. Ada pula sejarah sosial yang terbentuk melalui kebiasaan warga dalam bekerja bersama dan menjaga hubungan antarsesama.
Handapherang dan Warisan Sejarah yang Masih Hidup
Melihat perjalanan panjangnya, Handapherang memiliki banyak lapisan sejarah.
Ada cerita mengenai sumber air dan asal nama desa. Ada riwayat mengenai para kuwu dan kepala desa. Ada nama-nama dusun yang berkembang bersama kondisi alam dan perjalanan masyarakat. Ada patilasan yang menyimpan cerita tentang tokoh masa lalu. Ada pula legenda, tradisi, pendidikan, kesenian, dan gotong royong yang terus berubah mengikuti zaman.
Tidak semua cerita tersebut mempunyai tingkat pembuktian sejarah yang sama. Sebagian merupakan riwayat pemerintahan yang dapat ditelusuri melalui dokumen, sementara sebagian lainnya hidup sebagai tradisi lisan masyarakat.
Justru di situlah nilai sejarah lokal Handapherang berada.
Sejarah sebuah desa bukan hanya tentang apa yang tercatat dalam buku. Ia juga hidup dalam nama tempat, sumber air, bangunan, makam, situs, tradisi, cerita para sepuh, dan kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Bagi generasi sekarang, berbagai warisan tersebut dapat menjadi bahan untuk mengenali bagaimana sebuah komunitas terbentuk dan berubah dari waktu ke waktu.
Penutup
Handapherang merupakan bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Ciamis dan kawasan Tatar Galuh. Riwayatnya mempertemukan unsur lingkungan alam, pemerintahan lokal, kehidupan agraris, perkembangan Islam, pendidikan, seni, serta tradisi masyarakat.
Nama Handapherang, yang dalam penafsiran lokal dikaitkan dengan handap dan herang, pada akhirnya bukan hanya menjadi identitas administratif. Nama tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sejarah tempat tinggalnya.
Menjaga sejarah Handapherang tidak berarti mempertahankan semua cerita sebagai fakta tanpa kajian. Sebaliknya, pelestarian dapat dilakukan dengan mendokumentasikan cerita masyarakat, menelusuri arsip, merawat situs, mencatat nama tokoh, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah desanya sendiri.
Karena sebuah desa akan lebih mudah memahami masa depannya ketika masyarakatnya mengetahui dari mana perjalanan mereka bermula.
Ditulis oleh Feri Kartono | InfoCiamis.Online
