Guyub Ngawangun Galuh: Ketika Hari Jadi Ciamis Menjadi Pengingat Pentingnya Kolaborasi dalam Pembangunan Daerah


Bupati Ciamis Herdiat Sunarya bersama Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman berjalan menuju Gedung DPRD Ciamis untuk menghadiri Sidang Paripurna Istimewa Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384, Jumat (12/6/2026).


Peringatan Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis yang digelar pada Jumat (12/6/2026) tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan sejarah Tatar Galuh. Di balik rangkaian seremonial yang berlangsung, terdapat pesan penting yang relevan dengan tantangan pembangunan daerah saat ini, yakni pentingnya kolaborasi dalam menjalankan pemerintahan dan melayani masyarakat.


Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Ciamis mengusung tema "Guyub Ngawangun Galuh", sebuah filosofi yang menekankan kebersamaan, gotong royong, dan sinergi seluruh elemen masyarakat dalam membangun daerah.


Tagline tersebut bukan sekadar slogan perayaan tahunan. Dalam konteks pemerintahan modern, semangat "guyub" justru menjadi salah satu kebutuhan utama agar pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif di tengah keterbatasan anggaran dan semakin kompleksnya persoalan publik.


Peringatan Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Danrem 062/Tarumanagara, serta perwakilan sejumlah kabupaten dan kota tetangga. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dan kerja sama lintas wilayah.


Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama Setda Ciamis sekaligus Sekretaris Panitia Hari Jadi Kabupaten Ciamis, Budi Yudia Wahyu menjelaskan bahwa terdapat hal yang berbeda pada peringatan tahun ini. Rapat Paripurna DPRD dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Ciamis diselenggarakan menggunakan Bahasa Sunda.


Kebijakan tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.


Di luar aspek budaya, tema "Guyub Ngawangun Galuh" sesungguhnya memiliki makna yang sangat dekat dengan prinsip-prinsip kebijakan publik.


Dalam praktik pemerintahan, keberhasilan pembangunan tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang dimiliki daerah. Yang lebih menentukan adalah kemampuan pemerintah menghubungkan berbagai pihak agar bergerak menuju tujuan yang sama.


Tantangan pembangunan yang dihadapi Kabupaten Ciamis saat ini tidak sederhana. Mulai dari peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan ekonomi masyarakat, pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, hingga pengembangan infrastruktur memerlukan keterlibatan banyak pihak.


Karena itu, pembangunan tidak bisa hanya menjadi urusan satu organisasi perangkat daerah (OPD). Setiap program membutuhkan koordinasi lintas sektor agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.


Sebagai contoh, ketika pemerintah membangun kawasan wisata baru, keberhasilannya tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik semata. Dibutuhkan dukungan sektor UMKM, promosi pariwisata, akses jalan yang memadai, partisipasi pemerintah desa, hingga keterlibatan masyarakat sekitar sebagai pelaku utama ekonomi lokal.


Tanpa sinergi tersebut, pembangunan berisiko hanya menghasilkan proyek fisik tanpa dampak ekonomi yang signifikan.


Hal yang sama berlaku dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah keterbatasan kapasitas fiskal daerah, pemerintah dituntut mampu membangun kemitraan dengan dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas masyarakat, hingga media massa.


Model pembangunan kolaboratif seperti ini dikenal dalam konsep Pentahelix, yakni kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat dan media.


Bagi Kabupaten Ciamis, pendekatan tersebut semakin relevan mengingat berbagai potensi daerah yang dimiliki, mulai dari sektor pertanian, UMKM, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.


Dalam konteks ini, media lokal juga memiliki peran strategis. Selain menjadi saluran informasi publik, media turut membantu masyarakat memahami arah kebijakan pemerintah sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan warga.


Semangat "Guyub Ngawangun Galuh" pada akhirnya dapat dimaknai sebagai ajakan untuk memperkuat kolaborasi seluruh unsur pembangunan daerah. Sebab tantangan masa depan tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.


Memasuki usia ke-384 tahun, Kabupaten Ciamis tidak hanya dituntut menjaga warisan sejarah dan budaya yang dimiliki. Lebih dari itu, daerah ini juga ditantang untuk membangun tata kelola pemerintahan yang semakin kolaboratif, adaptif dan berkelanjutan.


Karena pada akhirnya, kemajuan daerah bukan hanya ditentukan oleh program yang dirancang pemerintah, tetapi oleh seberapa kuat seluruh elemen masyarakat mampu bergerak bersama dalam semangat Guyub Ngawangun Galuh.


Ditulis oleh Feri Kartono | InfoCiamis.Online

Next Post Previous Post