Kerusakan jalan dan buruknya sistem drainase di jalur penghubung Desa Nagarajaya dan Desa Nagarajati, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, kembali dikeluhkan warga. Kondisi jalan kabupaten tersebut dinilai semakin mempersulit aktivitas masyarakat karena menjadi akses utama penghubung dua desa.
Bagi warga setempat, persoalan jalan rusak bukan hanya soal kenyamanan berkendara. Infrastruktur yang tidak kunjung diperbaiki selama bertahun-tahun telah berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi hingga pelayanan publik.
Jalan tersebut setiap hari dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga menggunakannya untuk berbagai keperluan, mulai dari pergi ke Pasar Panawangan, menuju kantor kecamatan, sekolah hingga aktivitas perdagangan hasil pertanian masyarakat.
Namun kondisi jalan yang rusak di sejumlah titik, ditambah drainase yang buruk, membuat akses tersebut sulit dilalui terutama saat musim hujan.
Tokoh pemuda Desa Nagarajaya, Yaya Herdiana, mengatakan warga sudah cukup lama menunggu perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan tersebut.
Menurutnya, selama kurang lebih lima tahun masyarakat terus menyampaikan keluhan karena jalan penghubung antar desa itu memiliki peran penting bagi aktivitas warga sehari-hari.
“Jalan ini merupakan satu-satunya akses terdekat bagi masyarakat dari dua desa. Setiap hari ramai dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat untuk aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat,” ujar Yaya Herdiana.
Ia menjelaskan, kerusakan jalan membuat warga harus mencari jalur alternatif yang jaraknya jauh lebih panjang.
Warga Desa Nagarajati yang hendak menuju Pasar Panawangan, kantor kecamatan maupun pusat kota terpaksa memutar arah hingga puluhan kilometer. Padahal jika akses jalan tersebut dalam kondisi baik, jarak tempuh hanya sekitar lima kilometer.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menambah biaya transportasi masyarakat, tetapi juga memperlambat aktivitas ekonomi warga desa.
Menurut Yaya, masyarakat bersama pemerintah desa sebenarnya telah beberapa kali mengusulkan perbaikan jalan kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun hingga kini, usulan tersebut belum juga terealisasi.
“Kami bersama pemerintah desa sudah beberapa kali mengajukan permohonan pembangunan jalan ini, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian. Sebagai masyarakat, kami hanya bisa terus berharap,” katanya.
Persoalan infrastruktur jalan di wilayah perdesaan memang masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, termasuk di kawasan penyangga aktivitas pertanian seperti Panawangan.
Padahal, keberadaan jalan penghubung antar desa memiliki peran strategis dalam mendukung distribusi hasil pertanian, mempercepat akses pelayanan publik serta menjaga pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
Buruknya kondisi drainase juga menjadi perhatian warga karena mempercepat kerusakan badan jalan. Saat hujan turun, air sering menggenang di beberapa titik sehingga jalan menjadi licin dan rawan membahayakan pengendara.
Bagi masyarakat Nagarajaya dan Nagarajati, perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan fisik semata. Warga berharap infrastruktur yang layak dapat membantu memperlancar aktivitas ekonomi, mempermudah akses pelayanan publik, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah perdesaan.
Di tengah upaya pemerintah mendorong pemerataan pembangunan hingga pelosok daerah, warga berharap jalan penghubung dua desa tersebut dapat menjadi salah satu prioritas pembangunan infrastruktur ke depan.
Ditulis oleh Ule Sulaeman | InfoCiamis.Online
