Pelestarian budaya Sunda tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan atau perayaan tahunan. Anak-anak juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengenal permainan tradisional, seni, dan nilai kehidupan masyarakat secara langsung. Pendekatan inilah yang terlihat dalam kegiatan studi ekskursi SD IT Al-Istiqomah Hj. Aminah di Sakola Motekar, Kabupaten Ciamis, Rabu (14/10/2026).
Sebanyak 325 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan bertema Panca Waluya tersebut. Mereka diajak mempelajari budaya Sunda melalui permainan tradisional dan aktivitas berkarya, bukan hanya melalui penjelasan di ruang kelas.
Kegiatan ini turut mendapat perhatian Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Heryan Rusyandi, bersama Kepala Bidang Pemasaran, Asep Didi. Kunjungan keduanya menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap kegiatan edukasi yang memadukan seni, budaya, dan pengalaman belajar di luar sekolah.
Bagi sektor pariwisata, kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa daya tarik daerah tidak selalu harus bertumpu pada panorama alam. Pengetahuan budaya, permainan tradisional, dan keterlibatan komunitas juga dapat menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai pendidikan.
Belajar Budaya Sunda melalui Pengalaman Langsung
Sakola Motekar dipilih sebagai lokasi studi ekskursi karena menawarkan pengalaman belajar berbasis seni dan budaya Kasundaan. Siswa memperoleh kesempatan untuk mengenal tradisi melalui kegiatan yang melibatkan gerak, interaksi kelompok, dan kreativitas.
Kepala Dinas Pariwisata Ciamis, Heryan Rusyandi, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut membantu anak-anak memahami nilai Panca Waluya melalui aktivitas bermain dan berkarya.
“Melalui kegiatan ini, para siswa dapat mengenal dan menghayati nilai-nilai Panca Waluya melalui pengalaman langsung dalam aktivitas bermain dan berkarya,” ujar Heryan, Kamis (16/10/2026).
Panca Waluya merupakan konsep nilai karakter dalam budaya Sunda yang berkaitan dengan pembentukan pribadi yang sehat, baik, benar, cerdas, dan terampil. Dalam konteks pembelajaran, nilai-nilai tersebut dapat diperkenalkan melalui kegiatan yang mendorong kedisiplinan, kebersamaan, tanggung jawab, serta kemampuan anak dalam berinteraksi.
Pelajaran budaya dengan cara ini tidak berhenti pada pengenalan nama permainan atau alat kesenian. Anak-anak juga berkesempatan merasakan proses mengikuti aturan, bekerja bersama teman, dan menyelesaikan kegiatan secara kolektif.
Tiga Sesi Menghubungkan Permainan dan Kreativitas
Rangkaian studi ekskursi disusun dalam tiga sesi utama yang memberikan pengalaman berbeda kepada peserta.
Sesi pertama, Medar Kaulinan, memperkenalkan permainan tradisional yang dipadukan dengan iringan musik. Melalui kegiatan ini, siswa diajak berkenalan dengan bentuk permainan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Pada sesi berikutnya, siswa mengikuti permainan kelompok dengan beragam kaulinan tradisional. Aktivitas ini memberikan ruang bagi mereka untuk berinteraksi, memahami aturan permainan, dan membangun kerja sama.
Sesi terakhir berfokus pada kegiatan membuat karya. Anak-anak diajak mengembangkan keterampilan dan keberanian berekspresi melalui aktivitas kreatif.
Susunan kegiatan tersebut mempertemukan tiga unsur pembelajaran: pengenalan budaya, interaksi sosial, dan pengembangan kreativitas. Ketiganya menjadi cara untuk mendekatkan tradisi lokal kepada generasi muda melalui pengalaman yang lebih mudah mereka pahami.
Bagi sekolah, model pembelajaran di luar kelas juga membuka kesempatan untuk memperluas pengalaman siswa. Sementara bagi pengelola kegiatan budaya, kunjungan pendidikan dapat menjadi sarana memperkenalkan tradisi kepada kelompok usia yang akan meneruskan keberadaannya.
Sakola Motekar dan Peluang Wisata Berbasis Masyarakat
Kegiatan di Sakola Motekar juga memiliki relevansi dengan pengembangan wisata edukasi berbasis budaya di Kabupaten Ciamis.
Sakola Motekar berada dalam lingkungan Lembur Kaulinan Cibunar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya. Konsep kegiatan yang mengangkat permainan tradisional dan pembelajaran berbasis komunitas memberikan ruang bagi pengunjung untuk mengenal budaya melalui partisipasi langsung.
Pendekatan tersebut sejalan dengan peluang pengembangan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan tempat sebagai objek kunjungan, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh wisatawan.
Dalam model wisata berbasis masyarakat, komunitas lokal memiliki peran penting sebagai pelaku yang menjaga, memperkenalkan, dan menghidupkan tradisi. Permainan tradisional, seni pertunjukan, dan aktivitas kreatif dapat menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada sekolah, keluarga, maupun kelompok belajar.
Bagi Dinas Pariwisata, kegiatan seperti studi ekskursi membuka kesempatan untuk memperkenalkan potensi budaya Ciamis melalui pengalaman nyata. Namun, pengembangan lebih lanjut membutuhkan kesinambungan kegiatan, keterlibatan masyarakat, serta pengelolaan yang mampu menjaga nilai budaya sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dengan demikian, pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan tanpa menjadikan tradisi sekadar tontonan.
Tantangan Menjaga Budaya agar Tetap Dikenal Generasi Muda
Salah satu tantangan pelestarian budaya tradisional adalah memastikan generasi muda tidak hanya mengenalnya dari cerita, tetapi juga memahami cara dan nilai yang menyertainya.
Kegiatan yang melibatkan ratusan siswa menunjukkan adanya ruang untuk memperkenalkan budaya Sunda melalui pendekatan pendidikan. Akan tetapi, keberlanjutan pembelajaran tetap penting agar pengalaman satu hari dapat berkembang menjadi ketertarikan yang bertahan lebih lama.
Heryan berharap kegiatan edukasi budaya serupa dapat terus dikembangkan sehingga seni dan tradisi Sunda tetap dikenal oleh generasi penerus.
Dari sisi pemerintah daerah, upaya ini dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata yang bertumpu pada identitas lokal. Dari sisi pendidikan, pengalaman tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari nilai budaya melalui praktik.
Sementara itu, keberadaan komunitas seperti Sakola Motekar membuka ruang bagi tradisi untuk terus dipraktikkan dan diwariskan.
Ketika budaya hadir dalam pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak-anak, pelestarian tidak hanya menjadi agenda seremonial. Tradisi memiliki kesempatan untuk terus dikenal, dipahami, dan dipraktikkan oleh generasi berikutnya.
Ditulis oleh Feri Kartono | InfoCiamis.Online
