CIAMIS, JAWA BARAT — Di tengah derasnya modernisasi, ketika ruang digital menelan perhatian anak muda dan ritme ekonomi menggeser cara kita memandang masa lalu, museum menghadapi pertanyaan sederhana namun mendesak: apa yang masih tersisa jika jejak sejarah hilang satu per satu? Bagi Kabupaten Ciamis, Jawa Barat—wilayah yang pernah menjadi pusat peradaban Galuh—pertanyaan itu kini menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Meski mengantongi kekayaan budaya yang dalam, kenyataannya masih banyak warga Tatar Galuh tak menyadari bahwa kabupatennya menyimpan sembilan museum yang tersebar di beberapa kecamatan. Sebagian bahkan tidak pernah mendengar namanya. Inisiatif ini memperkuat komitmen pelestarian sejarah di Kabupaten Ciamis, serupa dengan upaya pelestarian sejarah Kerajaan Galuh sebelumnya yang juga mengedepankan pendokumentasian warisan budaya lokal.
"Dari hasil pendataan, ada sembilan site museum yang memenuhi kriteria. Ciamis sebenarnya memiliki museum hingga tingkat desa, namun tak semuanya memenuhi kriteria registrasi nasional." – Eman Hermansyah, Kabid Kebudayaan Disbudpora Ciamis
Sembilan Museum Warisan Budaya Galuh
Kesembilan museum itu mencerminkan rentang sejarah Tatar Galuh: dari jejak kerajaan, situs arkeologis, hingga koleksi fosil yang jarang dibahas. Inilah daftar warisan ingatan kolektif yang terancam terlupakan:
- Museum Fosil Tambaksari – Menyimpan koleksi fosil purbakala
- Museum Situs Karangkamulyan – Situs arkeologi bersejarah
- Bumi Alit Panjalu – Warisan budaya Panjalu
- Museum Galuh – Pusat informasi peradaban Galuh
- Museum Galuh Pakuan Jambansari – Sudah tersertifikasi NPNM
- Museum Bale Bandung – Koleksi budaya Sunda
- Museum Galuh Imbanagara – Sejarah lokal Imbanagara
- Museum Universitas Galuh – Koleksi akademik dan budaya
- Museum Ki Sunda Singaperbangsa – Tokoh budaya Sunda
Pentingnya Registrasi Nasional bagi Museum
Registrasi bukan sekadar formalitas birokrasi. Dengan terdaftar secara nasional, museum-museum di Ciamis memperoleh pengakuan resmi sekaligus peluang akses anggaran dan program revitalisasi dari pemerintah pusat.
"Pemerintah daerah akan mendapat peluang dukungan program atau anggaran dari pusat untuk pengembangan museum." – Eman Hermansyah, Kabid Kebudayaan Disbudpora Ciamis
Masalah terbesar bukan pada koleksi, melainkan ketidaktahuan publik. Museum Ciamis sering kali berada dalam posisi paradoks: kaya isi, tetapi miskin sorotan. Pemerintah berharap kunjungan pelajar bisa menjadi pintu awal menghidupkan museum kembali.
"Kami terus berupaya mengenalkan kembali museum kepada masyarakat. Museum dianggap sebagai ruang edukasi yang bisa menanamkan kembali kebanggaan pada leluhur Galuh." – Eman Hermansyah, Kabid Kebudayaan Disbudpora Ciamis
Baca Juga: Upaya edukasi budaya ini sejalan dengan inisiatif sekolah rakyat rintisan di Ciamis dalam membangun akses pendidikan yang merata dan berkualitas untuk seluruh masyarakat.
Menyelamatkan Masa Lalu untuk Masa Depan Ciamis
Sejarawan daerah telah lama menekankan bahwa ruang-ruang budaya ini dapat menjadi sandaran identitas, terutama bagi generasi yang sering mengakses sejarah lewat potongan viral—bukan lewat pemahaman mendalam. Museum-museum Ciamis bukan sekadar tempat menyimpan artefak, melainkan ruang perenungan: tentang asal-usul, tentang kekuasaan yang berpindah, tentang kehidupan nenek moyang Tatar Galuh.
Dalam era di mana ingatan bisa hilang sebesar tekanan ibu jari di layar ponsel, langkah Pemkab Ciamis menyelamatkan museumnya adalah pengingat bahwa masa depan tanpa masa lalu hanya menyisakan ruang hampa. Registrasi nasional sembilan museum bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menghidupkan kembali kesadaran sejarah masyarakat Kabupaten Ciamis.
Upaya melalui Disbudpora ini membuktikan bahwa di tengah gempuran modernisasi, Ciamis tetap berkomitmen menjaga warisan leluhur Galuh. Museum-museum ini tidak hanya menyimpan artefak, tetapi menjadi jendela bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka, membangun identitas yang kuat di tengah arus globalisasi yang tak terbendung.
