Sejarah Desa Saguling, Kecamatan Baregbeg: Dari Kisah Petinggi Terguling hingga Menjadi Desa Berbudaya di Ciamis

Musyawarah Pembangunan Desa Saguling - Tradisi Gotong Royong yang Tetap Bertahan

Musyawarah Pembangunan Desa (MUSRENBANGDES) Desa Saguling - Menjaga tradisi musyawarah dan gotong royong dalam pembangunan desa.

BAREGBEG, CIAMISDesa Saguling yang terletak di Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai budaya dan kearifan lokal. Walau tidak tercatat secara pasti kapan desa ini pertama kali terbentuk, jejak sejarahnya dapat ditelusuri melalui perkembangan pemerintahan desa di Indonesia sejak masa kerajaan hingga zaman kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.

Asal-usul Pemerintahan Desa di Nusantara

1350 M
Prasasti Kawali
1381 M
Prasasti Walandit
1938
IGO Buitengewesten

Keberadaan desa sebagai satuan pemerintahan paling bawah sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Berdasarkan Prasasti Kawali di Jawa Barat (sekitar tahun 1350 M) dan Prasasti Walandit di Jawa Timur (1381 M), sistem pemerintahan desa telah dikenal sebelum datangnya bangsa asing. Desa terbentuk karena dorongan sosial, kepentingan bersama, dan kebutuhan untuk menghadapi ancaman dari luar.

Pada masa itu, desa sudah memiliki sistem kepemimpinan yang diatur berdasarkan hukum adat. Setelah Belanda datang dan membentuk peraturan Regeling Reglement serta Inlandsche Gemeente Ordonnantie (IGO), desa kemudian mendapat pengakuan hukum resmi, khususnya di wilayah Jawa dan Madura.

Walau pada tahun 1924 peraturan ini diganti dengan Indische Staatsregeling, secara prinsip tata kelola desa tidak banyak berubah. Untuk wilayah luar Jawa, diterbitkan Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengewesten (IGOB) pada tahun 1938.

Struktur Pemerintahan Desa pada Masa Kolonial

Menurut IGO, terdapat tiga unsur penting dalam pemerintahan desa, yaitu:

  • Kepala Desa — pemegang kekuasaan tertinggi di tingkat desa.
  • Pamong Desa — perangkat yang membantu kepala desa menjalankan tugas.
  • Rapat Desa — wadah musyawarah dan pengambilan keputusan penting.

Kepala desa bertugas menyelenggarakan urusan rumah tangga desa serta melaksanakan kebijakan pemerintah, namun tetap harus memperhatikan pendapat rakyat melalui rapat desa.

Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia (7 Maret 1942), struktur pemerintahan tidak banyak berubah. Sistem pemerintahan desa dari masa Belanda tetap berlaku. Hanya sebutannya yang diganti ke dalam bahasa Jepang, seperti:

Syu → Syuco
Ken → Kenco
Gun → Gunco
Son → Sonco

Walau masa penjajahan Jepang singkat, sistem pemilihan kepala desa mengalami sedikit penyesuaian melalui Osamu Seirei No. 7 Tahun 1944. Sistem ini berlanjut hingga masa awal kemerdekaan, sebelum kemudian diatur ulang oleh pemerintah Republik Indonesia.

Asal-usul Nama "Saguling"

Menurut cerita masyarakat setempat, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Saguling merupakan daerah subur dengan tanah berbukit dan pepohonan lebat, terutama pohon nangka dan manggis yang banyak tumbuh di sekitar Dusun Kelewih.

Kisah unik terjadi pada masa Kerajaan Galuh. Saat para petinggi kerajaan melakukan kunjungan ke desa-desa, mereka melewati sungai Cikalagen. Namun, sebagian rombongan — termasuk para pengawal dan demang — terpeleset hingga terguling-guling di sungai tersebut. Dari peristiwa itulah muncul nama "Saguling", yang berarti "terguling" atau "berguling-guling".

"Selain itu, masyarakat setempat kala itu dikenal memiliki semangat gotong royong dan persatuan yang tinggi — disebut 'sagulung-sagalang' dalam istilah Sunda. Ketika para petinggi terguling, masyarakat dengan sigap menolong mereka dengan tandu."

- Cerita Turun-temurun Masyarakat Saguling

Kisah solidaritas inilah yang memperkuat makna nama Saguling sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian.

Pemerintahan Desa Saguling dari Masa ke Masa

Sejarah Kepemimpinan Desa Saguling
No Nama Kepala Desa Periode Keterangan
1 Sudira (Pernawijaya) s.d. 1825 Kepala Desa pertama pada masa Belanda
2 Jaya Dipura 1931 Kepala Desa masa kolonial Belanda
8 K. Suherlan 1982–1984 Kepala Desa ke-8, menjabat saat pemekaran desa
- Iwa K. Somantri 1984 Kepala Desa Saguling pasca-pemekaran
- K. Suherlan 1984 Kepala Desa pertama Desa Mekarjaya (hasil pemekaran)

Pada tahun 1984, terjadi pemekaran desa berdasarkan SK Kepala Desa Nomor 02/Pm.024.1/1984. Desa induk tetap bernama Saguling, sedangkan desa hasil pemekaran diberi nama Desa Mekarjaya.

Saguling Kini: Desa Berbudaya dan Produktif

Kini, Desa Saguling dikenal sebagai salah satu desa berbudaya di Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Masyarakatnya menjaga nilai-nilai sauyunan (gotong royong), serta melestarikan kearifan lokal melalui kegiatan adat, seni, dan pertanian yang berkelanjutan.

Dengan sejarah panjang dari masa kerajaan hingga kemerdekaan, Saguling menjadi contoh nyata desa yang mampu menjaga jati diri sambil berkembang menuju kemajuan.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Sejarah Desa Saguling mencerminkan perjalanan panjang sistem pemerintahan desa di Indonesia. Berawal dari peristiwa sederhana — petinggi terguling di sungai Cikalagen — nama Saguling kini menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan budaya masyarakat Galuh Ciamis yang penuh semangat kebersamaan.

Dari sebuah peristiwa terguling di sungai, terlahir nama yang mengandung filosofi hidup sagulung sagalang - kebersamaan yang menjadi jiwa masyarakat Saguling dari masa ke masa!

🔖 Kata Kunci SEO

Kata Kunci Utama: sejarah desa saguling, asal-usul desa saguling, saguling baregbeg, saguling ciamis, bendungan galuh ciamis, sejarah desa di ciamis, desa berbudaya di ciamis, asal nama saguling

LihatTutupKomentar