CIAMIS, JAWA BARAT — Festival Aspirasi yang digelar di Aula Wretikandayun, Situs Karangkamulyan, Ciamis, menjadi salah satu ruang dialog publik yang paling ambisius tahun ini. Namun di balik kemasan acara yang rapi dan penuh antusiasme, tersimpan analisis yang lebih kelam: meningkatnya konsentrasi kekuasaan elit, menguatnya politik uang, hingga keterjebakan generasi muda dalam sistem politik daerah yang tidak inklusif.
Dokumen latar belakang Festival Aspirasi menyebut perubahan besar dalam peta kekuasaan politik Indonesia, termasuk di Kabupaten Ciamis. Kekuasaan semakin terkonsentrasi pada kelompok elite yang memiliki modal finansial, akses partai, dan jaringan patronase kuat. Inisiatif ini memperkuat pemahaman tentang dinamika politik di Kabupaten Ciamis, serupa dengan perjalanan perjalanan politik Bupati Herdiat Sunarya yang juga mencerminkan kompleksitas sistem politik lokal.
"Ketika kesejahteraan belum memadai, masyarakat mudah tergoda praktik money politik. Ini bukan kondisi demokrasi yang sehat." – Herdiat Sunarya, Bupati Ciamis
Normalisasi Money Politik: Tantangan Demokrasi di Tingkat Daerah
Salah satu temuan paling tajam dalam dokumen kegiatan adalah normalisasi politik uang. Bukan sekadar pelanggaran sporadis, tetapi sudah menjadi "mekanisme bertahan hidup" dalam kontestasi politik daerah.
Beberapa faktor yang mendorong normalisasi money politik meliputi kaderisasi partai yang lemah dimana kandidat bergantung pada modal finansial daripada platform gagasan, regulasi yang tidak tegas sehingga memungkinkan transaksi di ruang privat, pengawasan yang lemah karena skala praktik terlalu besar dibanding kapasitas lembaga pengawas, serta budaya masyarakat yang semakin menerima politik uang sebagai hal yang normal.
Generasi Muda Ciamis: Berada di Pusaran Sistem Politik yang Tidak Setara
Dokumen kegiatan menyoroti generasi muda sebagai kelompok dengan potensi perubahan terbesar namun paling rentan dikendalikan. Profil generasi muda Ciamis menunjukkan dominasi mereka di ruang digital dan media sosial, meningkatnya kesadaran sosial terhadap isu publik, namun di sisi lain memiliki akses terbatas ke struktur politik formal.
Generasi muda Ciamis sering bergantung pada tokoh lokal untuk pekerjaan dan fasilitas, mudah terseret jaringan politik tanpa pilihan alternatif, namun di sisi lain memiliki energi dan ide untuk perubahan yang signifikan.
"Dialog dua arah antara DPR dan masyarakat sangat penting untuk memperkuat demokrasi yang partisipatif." – Ahmad Heryawan, Ketua BAM DPR RI
Peran BAM DPR RI: Terobosan Baru atau Ruang Pengaruh Elite?
Festival Aspirasi diselenggarakan oleh Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, lembaga baru yang bertugas menjembatani aspirasi publik ke parlemen. Lembaga ini memiliki fungsi menampung dan menelaah aspirasi masyarakat, menyalurkannya ke komisi DPR terkait, serta memantau tindak lanjut aspirasi tersebut.
Baca Juga: Partisipasi politik generasi muda ini sejalan dengan diskursus Pilkada Serentak 2024 di Ciamis yang juga menguji sistem demokrasi lokal di tengah tantangan money politik dan dominasi elite.
Namun BAM DPR RI juga menghadapi tantangan seperti potensi menjadi etalase representasi semata, risiko menjadi simpul baru pengaruh elite politik, sementara di sisi lain membuka peluang ruang partisipasi publik yang lebih luas.
Ciamis: Miniatur Persoalan Politik Nasional
Ciamis menjadi panggung kecil yang menggambarkan dinamika besar politik Indonesia: wilayah pedesaan luas, partisipasi politik tinggi, tetapi patronase lokal masih dominan dalam membentuk kesadaran politik warganya.
Ruang diskusi seperti Festival Aspirasi menjadi penting, namun tidak cukup untuk menggeser struktur kekuasaan yang sudah mengakar. Jika ingin membawa perubahan nyata, ruang dialog harus hadir tidak hanya di Aula Wretikandayun, tetapi juga di desa-desa, sekolah, kampus, dan komunitas pemuda di seluruh Ciamis.
Festival Aspirasi dan Pertarungan Demokrasi yang Lebih Besar
Ketika backdrop Festival Aspirasi mulai dilepas, satu pertanyaan besar tersisa: Apakah demokrasi hidup di ruang-ruang dialog publik ini, atau hanya singgah sebelum kembali dikendalikan kekuatan modal dan patronase elite?
Dokumen kegiatan menunjukkan bahwa tantangan generasi muda Ciamis jauh lebih besar daripada satu seminar. Namun ruang dialog seperti ini tetap penting sebagai pijakan awal untuk membangun politik yang lebih terbuka dan akuntabel.
Perubahan tidak akan cepat. Tidak akan mudah. Tetapi demokrasi selalu dimulai dari ruang-ruang kecil yang berani mengakui masalahnya. Festival Aspirasi di Ciamis mungkin salah satunya.
